NB : Sebagai informasi, aku hanya ingin mengkoping segala kekesalanku terhadap liberal dan liberalisme dengan humor. Mohon ditertawakan. Kalau ada Pak Liberal dan Bu Liberal yang tersinggung, salah sendiri baca blog ini. Makanya ga usah baca bro. Beres kan?
Hahahaha...tawaku terurai lepas saat melihat komen seorang kontributor di forum diskusi. Dia seorang perempuan jurusan Psikologi yang profil FBnya pun unyu-unyu. Dari semua komentator dialah yang selalu membuat diriku tertawa, walaupun dia selalu serius, spanneng Bahasa Jawanya. Sebut saja namanya Yumi. Mungkin perlu saya kasih chan supaya bisa unyu kaya nama saya juga. Yumi-chan, begitulah namanya. Pemikirannya bukan hanya nyeleneh, tapi lucu. Dia ambil jurusan psikologi tetapi sangat aneh dan kelihatannya sudah mabuk pada liberalisme. Entah mengapa kalo ingat si Yumi jadi ingat dengan teman-temanku di Fakultas Filsafat yang langsung konslet sehabis masuk di fakultas itu. Kayanya dunia berputar di sekitar falsafah aja, ga ada yang lain. Weks! Kasihan banget sampai berbicara biasa saja tidak bisa. Mirip dengan beberapa temanku di sastra yang sering membeku hanya karena mengamati gaya bahasa individual alias parole orang di jalan. Mabuk logi eh mabuk ilmu.
OK, kembali ke Yumi-chan. Kelihatannya dia masih muda, sekitar 10 tahunan lebih muda daripada aku. Yang paling ahong lagi adalah semua pemikirannya aneh. Dalam suatu diskusi ia bilang bahwa warga Jepang dan Korea kebanyakan atheis. Saya bantah tho, kalau mereka dibilang atheis kayanya kurang tepat karena Korea dan Jepang terkenal dengan Buddha Zennya. Jika dibuka direferensi-referensi yang bukan resmi (wikipedia), jelas saja akan dibilang sebagai atheis. Harus kita ingat kata atheis dalam paradigma orang Barat (atheis bahasa Yunani, bro) memiliki makna semantik tidak bertuhan dan tidak beragama. Logikanya itu berbeda dengan arti semantik frase 'tidak beragama'. Orang Buddha percaya pada Buddha, punya agama, walau tidak menyembah dewa, karena Buddha harus bukan dewa (silakan dibuka Tripitaka dan catatan-catatan Sri Langka). Nah, jadi deh distorsi pemahaman dia. Saya counter lagi kalau Tokugawa Iemitsu bahkan mengukuhkan Buddha sekte Pure Land sebagai agama negara. Trus saya yang sebel sama dangkalnya pengetahuan tentang Jepang langsung pakai problem solving based coping dengan bilang tanpa babibu, "Besok lagi, belajar yang bener ya. Jangan lupa baca bukunya jangan cuma buku psikologi ma wikipedia doang." Aku sebenarnya ragu kalau dia tahu soal wikipedia juga.
Sebenarnya pemikiran para liberalis Indonesia itu lucu banget. Dulu para nasionalis kita sengaja membuat Pancasila sebagai dasar negara kita, kok mereka dasar negaranya bukan Pancasila malah liberalisme. Lucu lagi remaja ababil yang suka liberalisme...entah karena generasi mereka memang generasim over xenosentris atau apaan lah. Sungguh lucu negeri ini :)
Filsafat Hermeneutika
Pertama kali hermeneutika hadir di hidupku saat seorang lelaki yang menyukaiku suka sekali menyinggung hermeneutika di kuliahan. Males mbaca karena ingat orang itu. Huft. Tapi kayanya harus deh. Sejujurnya aku lebih suka melihat semuanya dari segi sosiologi dan psikologi karena filsafat adalah ilmu paling lebay di dunia ini. Orang Indian gak kenal filsafat Yunani juga hidup bahagia kok (pragmatis banget yah, aku ini??) dan sejujurnya pengartian akan jadi sangat berbeda satu sama lain, jadi pengartian Al Quran versi orang liberal itu tetep sangat tragis. Coba berikan AlQuran sama orang Indian, apa sama dengan hermeneutika kalian?? Pasti engga. Filsafat fenomenologis ajah banyak kurangnya. Makanya, hidup itu jangan saklek ilmuwan jadi kaya orang bodoh dalam baju orang pintar.
Silau ya? Silau Sama Kebrilianan Barat?
Brilian dipinjam dari Bahasa Inggris 'Brilliant' dari Bahasa Prancis Kuno Brille....terserah buat pohon diakronik linguistik sendiri!
Entah mengapa saya merasa orang-orang liberal yang saya sebutkan itu aneh. Mengapa seperti alang-alang yang tertiup angin perubahan, bukan pohon yang tetap tegak berdiri. Gapapa sih, setidaknya alang-alang bisa dibuat tikar ma obat susah buang air.
Pemikiran saya sebenarnya gampang saja sih, saya tidak bisa percaya filsafat Barat karena memusingkan. Bukan karena saya bodoh, tapi emang engga sama dengan filsafat Timur. Semua manusia hidup dengan filsafat, bukan hanya orang narsis kaya orang-orang Yunani Kuno itu. Sebenarnya aku sering curiga pada mereka, kok pemikirannya aneh kaya sinetron, ekstrim. Kalau hitam itu lawannya putih. Apa iya?? Capek ngulas yang aku sebeli. Maaf nih yeh, justru sekarang, di saat saya banyak membaca tentang kognisi manusia dan budaya, semakin luas wawasan saya dan semakin kecil filsafat-filsafat Barat dalam pikiran saya. Seandainya saya mengagumi orang Inggris Kuno, saya mengagumi ketabahan mereka saja, sama seperti saya mengagumi manusia Indonesia yang tabah juga.
Tapi entah mengapa saya eneg sama filsafat Yunani Kuno. Apalagi pandangan ethnosentris mereka yang sama ahongnya, bilang kalau mereka paling indah, dibandingkan dengan orang Eropa Utara dan Afrika Utara. Ya, cakep sih, tapi kalau dibandingkan ma orang Eropa Utara ya jauh laaaah (kalah cakep maksudku), Ini selera abad 21 jwe. Orang Afrika eksotik, dan lebih tinggi daripada orang Yunani. Plus sekarang Pak Sokrates yth, negaramu bangkrut, jadi yah....economical capital dari orang-orang Yunani kurang. Palagi Yunani jaman sekarang pada gila oplas. Duuuuh....
Daripada terjerat filsafat, aku mau belajar Psikologi Kognitif dulu aaah....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar